cerita inspirasi 

Nama : Siti Ulfah Hasanah
NRP : I24100073
Laskar : 10

Menikmati Kesulitan Dan Tantangan
Cerita inspirasi diri sendiri

Dalam suatu perjalanan hidup, cita- cita terbesar adalah menuju kesempurnaan. Ada kalanya kita mesti berjuang serta menyikapi segala rahasia kehidupan. Namun sebuah keinginan yang diinginkan tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Ada kalanya dalam proses pencapaian, kita menghadapi kesulitan juga tantangan.
Rahasia kehidupan pastinya tidak akan selalu indah, tapi menikmati kesulitan dan tantangan jauh lebih indah di bandingkan tidak mensyukuri atas apa yang seharusnya sudah cukup bagi kita.
Itu merupakan suatu rahasia kehidupan saya. Bagaimana saya menikmati kesulitan juga tantangan dalam hidup saya selama ini. Kisah yang saya alami sudah cukup membuat saya lebih dewasa, bijaksana serta meyakini bahwa takdir itu Allah yang mengatur. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.
Saya terlahir dari keluarga yang peduli dengan pendidikan, karena keluarga paham bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat bagi orang yang berilmu. Alhamdulillah 6 kakak saya melanjutkan kuliah.
Dengan penuh keyakinan, sejak SMA saya sudah merencanakan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya berkomitmen untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Sejak saat itu saya mencoba membuat peta kehidupan demi terorganisirnya sebuah keinginan.
Belajar dan berdoa itulah salah satu usaha yang saya lakukan demi mencapai keinginan itu. Setiap saat saya mencari informasi dari sumber yang benar-benar paham tentang hal itu. Mencoba berdiskusi dengan keluarga dan orang-orang sekitar.
Test dan test pun saya lalui. Ujian pertama yang saya ikuti adalah UTM( ujian talenta masuk) yang diadakan di Jakarta, dengan berbagai pengalaman menarik serta aneh saya laiui. Ujian kedua adalah SNMPTN yang di adakan di SMA NEGERI 3 Bogor. Ujian ketiga adalah UIN Mandiri yang diadakan di Jakarta.
Pasrah pun menjadi kunci saya pada saat itu. Karena semua telah saya lalui dan kini saya hanya menyerahkannya kepada Allah SWT. Hari demi hari telah saya lewati. Perasaan deg-degan, takut, penasaran pun menghantui hati saya.
Hari yang dinantikan pun tiba, pengumuman UTM telah keluar. Ternyata nama saya tidak keluar dalam pengumuman itu. Tapi pada saat itu, saya masih merasa tenang karena masih ada dua pengumuman lagi. Namun, lagi dan lagi nama saya tidak tercantum pada pengumuman lainnya. Sedih dan bingung saya rasakan, namun teringat ucapan dari seorang sahabat yang mengatakan bahwa: “saat kita merasa harapan itu terlalu tinggi, bukankah kita punya Rabb yang maha tinggi?. Saat kita merasa tidak sehebat dari yang lain, bukankah kita punya Rabb yang maha hebat?. Dan ketika kita merasa hidup ini sulit, Rabb mengatakan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Ia punya segala yang tidak kita miliki. Kita tidak tahu entah di usaha keberapa Rabb kita mengizinkan”.
Dari kata-kata itu dan diskusi dengan keluarga, saya mempertimbangkan dan memutuskan bahwa saya akan mengulang di tahun depan. Awalnya sulit karena saya merasa malu dan iri dengan teman- teman yang sudah kuliah. Namun saya berfikir apakah hanya karena sebuah rasa gengsi, saya berhenti sampai di sini saja.
Hidup ini memang penuh tantangan, semua bagaimana kita menyikapinya. Belajar dari sebuah kegagalan jauh lebih baik daripada gagal untuk mencoba. Dari kegagalan itu saya bisa lebih belajar dari apa yang salah pada perjalanan hidup saya. Mungkin usaha saya yang kurang dan doa yang tidak mantap. Akhirnya saya mengubah strategi dalam mencapai keinginan ini.
Dengan keputusan itu, saya berfikir bahwa bagaimana dalam satu tahun kedepan, waktu ini tidak sia- sia. Saya pun mengikuti bimbel juga kuliah D1. Selain dapat memanfaatkan waktu, saya pun mendapatkan banyak ilmu.
Akhirnya saya mencoba test UTM IPB. Dengan bismillah, Alhamdulillah usaha dan doa saya selama ini terjawab oleh Allah. Saya pun di terima di IPB.
Terus berjuang dan tidak berputus asa merupakan inti dari semuanya. Menjadikan segala sesuatu menjadi sebuah perjalanan hidup yang luar biasa, akan membuat kita selalu enjoy menjalani segala yang terjadi. Sehingga akhirnya mendapatkan apa yang terbaik untuk kita. So, Be Optimis!!

Nama : Siti Ulfah Hasanah
NRP : I24100073
Laskar : 10
Bersama Sahabat
Cetita Inspirasi orang lain
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama
karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur – disakiti, diperhatikan – dikecewakan, didengar – diabaikan, dibantu – ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
** Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri ** «Dalam masa kesuksesan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita»